Pudarnya Sihir Premier League di Eropa

Judi Online, Agen Bola, Bandar Bola
On March 19, 2015 by KampusBet
Judi Online, Agen Bola, Bandar Bola

Pudarnya Sihir Premier League di Eropa

 

Judi Online – Pudarnya Sihir Premier League di Eropa,

Tidak ada wakil Premier League yang melaju ke perempatfinal Liga Champions 2014–2015. Tiga wakil mereka yakni Chelsea, Arsenal, dan Manchester City tersingkir di babak 16 besar. Berawal kegagalan Chelsea atas Paris Saint-Germain. Kemudian, disusul Arsenal yang nyaris dapat membalikkan keadaan atas AS Monaco. Berikutnya, City menyusul usai kalah dari Barcelona.

Apa yang menyebabkan mereka gagal mengulangi kisah manis pada 2006 hingga 2009. Saat itu Premier League memiliki tiga wakil yang melaju hingga semifinal. Liverpool, Arsenal, Manchester United, dan Chelsea bergantian meramaikan babak empat besar. Bahkan, dua nama terakhir saling berhadapan di final 2007–2008 dan diakhiri dengan drama adu penalti untuk kemenangan The Red Devils.

Setelah tiga musim tersebut yang dilabeli sebagai era keemasan Premier League, perlahan prestasi tim asal Negeri Ratu Elizabeth menurun. Apa yang terjadi pada musim ini tak jauh berbeda dari musim 2012–2013, setidaknya jumlah tim yang berlaga di first knockout round lebih banyak pada musim ini.

Kala itu, Chelsea yang berstatus sebagai juara bertahan harus tersingkir di penyisihan grup dengan hanya menyisakan Setan Merah dan The Gunners yang langkahnya juga terhenti di 18 besar atas Real Madrid serta Bayern Munich.

Lantas, apa yang menyebabkan kontestan dari liga paling menghibur di dunia itu mulai kedodoran di level Eropa? Di samping menggeliatnya performa tim-tim besar seperti duo La Liga, Real Madrid, dan Barcelona. Juga Bayern Munich dari Bundesliga yang secara konsisten melaju ke semifinal dalam tiga musim terakhir.

Sedangkan dari Premier League, hanya The Blues yang dalam dua musim terakhir melaju hingga empat besar, satu di antaranya keluar sebagai juara (2011–2012) usai mengalahkan Die Roten di final dengan adu penalti. Sebagai catatan, musim ini hanya Everton yang tersisa dari Premier League di kompetisi Eropa (Europa League).

Agen Bola | Judi Online | Bandar Bola | Agen Casino

Lalu, ke mana City yang dua kali menjuarai Premier League dalam tiga musim terakhir? The Citizens memang tampil luar biasa di kompetisi domestik. Namun, Vincent Kompany cs seperti kehilangan daya saat berlaga di level Eropa. Bahkan, mereka belum sekalipun merasakan atmosfer perempatfinal sepanjang sejarah klub.

Manchester United? Setelah 17 tahun bersama Sir Alex Ferguson dengan pencapaian tujuh kali semifinalis, empat finalis dengan dua di antaranya sebagai juara, kini mereka harus membangun fondasi kembali. Sang suksesor, David Moyes bisa mengantarkan mereka ke perempatfinal, namun Setan Merah terseok-seok di level domestik. Bahkan, mereka harus absen di Eropa musim ini dan Moyes kehilangan jabatannya.

Kemudian, apakah harus menyalahkan pemain-pemain Inggris atas kemunduran prestasi ini? Menurut BBC, Kamis (19/3/2015), tak mungkin mengambinghitamkan pemain lokal. Sebab, dalam studi yang mereka keluarkan pada November 2014 menunjukkan Arsenal, Chelsea, Manchester United, Manchester City, hingga Tottenham Hotspur menjadi kontestan Premier League dengan penggunaan tertinggi pemain asing.

Contohnya, terhitung pada leg kedua babak 16 besar musim ini hanya ada delapan pemain asli Inggris yang menjadi bagian dari ketiga tim (Gary Cahill dan John Terry di Chelsea; Danny Welbeck, Kieran Gibbs, Callum Chambers, dan Theo Walcott di Arsenal; hingga Joe Hart serta James Milner bersama City).

Bandingkan dengan yang dilakukan Dortmund dan Bayern pada 2012. Die Borussen menggunakan 10 pemain asli Jerman untuk menyingkirkan Manchester City, sedangkan Die Roten menggunakan enam pemain dari Jerman guna menggulingkan Meriam London.

Ada baiknya klub Premier League lebih menghormati peraturan financial fair play (FFP) yang diberlakukan UEFA. Juga mulai mencontoh apa yang dilakukan oleh klub-klub Bundesliga dan La Liga yang lebih memberi ruang kepada pemain binaan akademi mereka.

Selain itu, banyak yang menyalahkan padatnya jadwal liga menguras habis stamina para pemain. Misalnya saat memasuki pengujung tahun saat liga top Eropa lain seperti Serie A, Bundesliga, dan La Liga memberikan libur, di Inggris sibuk dengan Boxing Day dan bermain dua pertandingan pada periode tahun baru.

Hal ini juga yang terucap dari pelatih City, Manuel Pellegrini, usai timnya tersingkir dengan agregat 1-3 dari Barcelona. “Kami datang setelah bermain sepanjang Januari dan Februari, memainkan begitu banyak pertandingan,” ucap Pellegrini kepada The Telegraph.

Meski begitu, dalam koefisien liga yang dikeluarkan UEFA, posisi Premier League masih di urutan kedua dan dibuntuti oleh Bundesliga. Akan tetapi, jika tidak segera memberi napas dengan merenggangkan jadwal kepada tim Premier League dan ruang bagi pemain dalam negeri, bukan tak mungkin tren dalam tiga musim terakhir akan kembali terulang.

Kampusbet | Jendralpoker
Kami ada karena Anda

BBM : 2AE11015
SMS : +62 8788 7980 368
WhatsApp : +855 8731 8883
WeChat : KampusBet
YM : CSKampusbet@yahoo.com
Facebook : kampusbet
Twitter : Kampusbet
Google+ : Kampusbet