Pejalan Jauh Bernama Martin Odegaard

odegaardmartinisi
On January 22, 2015 by KampusBet

Agen Bola

Agen Bola – Pejalan Jauh Bernama Martin Odegaard ,

 

“Saya tidak bisa membayangkan dia akan langsung bermain untuk Real Madrid atau Bayern. Jika dia anak saya, saya akan mengirimnya ke Belanda.”

Tapi, Martin Odegaard bukanlah anak Michael Laudrup –orang yang melontarkan deretan kalimat di atas. Odegaard dan Laudrup cuma sama-sama lahir di Skandinavia. Yang satu terlahir sebagai orang Norwegia, yang lainnya sebagai orang Denmark.

Odegaard jadi babak paling baru dari sebuah folklore yang sudah lama berkeliaran di dunia sepakbola, folklore mengenai pemain-pemain muda yang kelewat cepat naik tanpa kita tahu akan seperti apa dia di masa depan. Sudah lazim mereka yang naik kelewat cepat ini kemudian terhempas, jatuh, dan terlupakan.

Namun, karena iktikad baik, mari kita doakan saja cerita Odegaard ini tidak berakhir seperti Freddy Adu ataupun Freddy Adu-Freddy Adu lainnya. Mari kita doakan saja Odegaard ini kelak jadi sebesar ingar-bingarnya di media massa beberapa bulan terakhir.

Odegaard masihlah bocah, usianya baru 16 tahun. Dalam pandangan Laudrup yang mengibaratkannya sebagai seorang anak, Odegaard layak untuk diperlakukan sedemikian rupa, sebaik-baiknya, agar tidak mengambil keputusan yang salah. Makanya, Laudrup agak heran ketika mendengar Odegaard lebih dekat ke Bayern Munich ataupun Madrid –dan kini akhirnya sudah resmi bergabung dengan Madrid.

Untuk pemuda sebelia Odegaard, Laudrup merasa sebaiknya dia dikirim ke Belanda dan bermain untuk tim Erdeivisie saja. Di sana, kesempatan untuk bermain di tim utama terbuka lebih lebar. Tentu, tidak demikian ceritanya jika dia jadi pemain Madrid. Untuk bisa menembus tim utama, Odegaard akan lebih dulu ditempatkan di Tim Castilla, tempat banyak pemain-pemain muda juga bermimpi sepertinya: Bermain berdampingan dengan pemain-pemain mahal di tim utama.

Jauh sebelum memutuskan bergabung dengan Madrid, Odegaard, yang tercatat sebagai pemain termuda yang tampil di kualifikasi Piala Eropa dalam usia 15 tahun dan 300 hari, diajak sang ayah berkelana ke berbagai klub besar untuk melakoni trial.

Tanyakan kepada diri Anda sendiri, apa yang Anda lakukan atau mungkin apa yang ayah Anda berikan ketika Anda berusia 15 tahun. Bisa jadi, yang diminta ayah Anda adalah tekun-tekun belajar di sekolah. Perjalanan atau petualangan apa pun bisa menunggu setelahnya, setelah mengenyam pendidikan di bangku sekolah.

Tapi, ayah Odegaard, Hans Erik, justru membawa sang anak pada sebuah perjalanan, berlabuh dari satu pemberhentian ke pemberhentian lain. Sebuah perjalanan nan amat panjang: dari Liverpool ke Manchester, ke London, lalu ke Madrid. Odegaard si bocah kini jadi si pejalan jauh.

Hans Erik merasa anaknya cukup satu musim saja memperkuat Stromgodset. Setelah 23 penampilan dan 5 gol di klub tersebut, Hans Erik merasa sudah selayaknya Odegaard merasakan level yang berbeda. Toh, dia meyakini kecemerlangan anaknya bukanlah sihir satu malam yang menghilang keesokan paginya.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Hans Erik mengklaim kalau Odegaard sudah ribuan kali menendang bola sejak usianya delapan tahun. “Waktu itu saya masih jadi pemain dan Martin tidak lebih tua dari delapan tahun. Saya sedang berlari di lapangan. Ketika saya selesai, saya malah tidak bisa pulang sebelum dia melakukan 50 tembakan lagi,” ucapnya.

Hans Erik juga mengklaim, putranya sudah berlatih 20 jam sepekan sejak usianya tujuh tahun. Entah ayah macam apa Hans Erik, seorang penuntut atau justru amat berdedikasi terhadap anaknya.

Agen Bola

Ada cerita soal bocah lainnya yang dibawa si ayah berkeliling ke sana ke mari untuk menjajakan kemampuannya bermain si kulit bundar. Bocah itu berambut pirang dan berbadan kurus. Namanya Christian Eriksen.

Jauh sebelum menjadi katalis serangan Tottenham Hotspur dan memangku tugas sebagai “nomor 10”, Eriksen berjalan jauh, berlabuh dari satu pemberhentian ke pemberhentian lainnya. Sama seperti Odegaard, sang ayah membawanya untuk menjalani ujicoba dan berlatih dengan tim-tim besar.

Tapi, berbeda dengan Hans Erik, kedua orang tua Eriksen amat berhati-hati. Mereka tidak mau tergiur begitu saja dengan para agen sepakbola yang menjanjikan si anak bisa mendarat di tim besar. Alih-alih percaya kepada agen, ayah Eriksen menyerahkan penanganan anaknya kepada kepala pemandu bakat Odense Boldklub –klub Eriksen saat itu–, Uffe Pedersen.

Pedersen ikut menemani Eriksen menjalani ujicoba dengan Barcelona, Chelsea, AC Milan, dan Ajax Amsterdam. Tujuan orang tua Eriksen ketika itu adalah mencari klub yang tepat untuk anaknya, bukan sekadar klub besar. Opsi pun menyempit pada Barca dan Ajax. Jika bergabung dengan Barca, Eriksen bisa belajar sebanyak-banyaknya di La Masia.

Namun, pilihan akhirnya jatuh kepada Ajax. Seperti yang sudah digambarkan oleh Laudrup, Belanda dan tim-tim Eredivisie biasanya memberikan kesempatan besar kepada pemain muda untuk bermain di tim utama. Tidak seperti klub-klub di liga besar, dana yang dimiliki tim-tim Eredivisie tidak banyak. Mereka tidak akan membeli pemain kalau memang tidak perlu-perlu amat. Selebihnya, jika membutuhkan pemain, mereka akan melihat lebih dulu ke akademi masing-masing.

Di Ajax, Eriksen tidak sekadar diberikan pengharapan menyoal kans besar main di tim utama, melainkan juga diberikan pemahaman mendasar soal permainan dan taktik. Dalam waktu singkat, Eriksen merangkak naik, dari tim U-17 ke tim U-19. Ketika usianya 17 tahun, pelatih Ajax, Frank de Boer, memberikannya debut di tim utama.

“Dia selalu bergerak. Dia selalu berpikir cepat, seakan-akan punya mata di belakang kepalanya. Anda akan mengira dia tidak melihat rekan di belakangnya, tapi sebenarnya dia melihatnya,” ujar De Boer.

Eriksen tidak hanya punya kemampuan operan mumpuni, tetapi juga visi bagus dan oleh karenanya dia bisa mengatur permainan tim. Namun, tidak seperti tipikal pemain no. 10 kebanyakan, Eriksen juga bisa tampil tanpa berbasa-basi. Ketika timnya sedang buntu, dia tak segan untuk melepaskan sepakan dari luar kotak penalti untuk menciptakan gol. Tentu, tindakan demikian terkadang lebih berguna ketimbang sekadar melepas umpan-umpan cantik tanpa hasil.

Eriksen mengambil untung dari perjalanan panjang dan buah kesabarannya (dan juga orang tuanya). Tapi, sebagaimana sebuah perjalanan, pilihan ada pada si pemilik kaki. Jika Eriksen memilih untuk menunggu dan mengasah diri di tempat yang nyaman, Odegaard langsung terjun ke rimba yang lebih buas.

Odegaard baru berusia 16 tahun. Langkahnya masih bisa mengayuh sejauh mungkin. Keretanya juga masih mungkin berhenti dari satu stasiun ke stasiun lain. Semoga dia tidak berhenti pada sebuah stasiun yang jauh dari mana-mana. Sebuah stasiun di antah berantah.

 

Kampusbet | Jendralpoker
Kami ada karena Anda

BBM : 2AE11015
SMS : +62 8788 7980 368
WhatsApp : +855 8731 8883
WeChat : KampusBet
YM : CSKampusbet@yahoo.com
Facebook : kampusbet
Twitter : Kampusbet
Google+ : Kampusbet